Hakikat Merayu Tuhan

Hakikat Merayu Tuhan
Hakikat Merayu Tuhan | Ilustrasi ©Rara/Lapmi TNG

Merayu Tuhan, belakangan istilah ini kerap saya dengar. Sebagai penyebutan lain dari permohonan seorang hamba diiringi dengan persembahan-persembahan kepada Tuhan agar doa atau permohonannya diperkenankan.

Dengan ungkapan lain, seorang hamba tengah memohon sesuatu kemudian melakukan perbuatan-perbuatan yang menyenangkan Tuhan agar dikabulkan permohonannya. Memang begitulah sepatutnya, seorang hamba harus menyembah dahulu baru kemudian meminta pertolongan.

Iyyaa kana’ budu waiyyaa kanasta’iin. Menyembah terlebih dahulu disebutkan, setelahnya baru disebutkan perihal meminta. Hakikinya bila menggunakan pendekatan etika/moral, hubungan ke atas yakni kepada Allah swt haruslah sama seperti timbal balik hubungan ke samping yakni kepada sesama manusia. Maka yang seharusnya ditekankan pada bagian ini ialah suatu kepantasan. Terlepas dari ke maha kasih dan sayang Allah, manusia harus menyadari tingkah lakunya dalam menghamba.

Manusia memang berbeda dengan satu hal yang dimilikinya yaitu kebebasan. Namun, jangan sampai manusia terbiasa dalam keadaan sadarnya karena kebebasan atas dirinya itu digunakan untuk membiasakan diri menghamba kepada hal-hal lain. Seseorang dapat terjebak pada penghambaan kepada manusia ataupun makhluk Allah lainnya. Situasi ini identik dengan suatu pertolongan atas permohonan manusia kepada Tuhan.

Di dunia ini, apapun yang membuat manusia terwujud permohonannya akan disebut sebagai penolong. Manusia, alam sekitar, bahkan keadaan sangat berpotensi disebut sebagai penolong. Semuanya itu sesungguhnya adalah perantara antara manusia dengan Tuhan. Penolong yang sebenarnya ialah Tuhan. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam yang selalu membantu hambanya.

Kiasannya adalah seperti halnya suatu barang, pertolongan dari manusia atau apapun yang lain sejatinya merupakan sesuatu yang diperoleh dari distributor. Penyebutan Istilah distributor ini untuk memberikan makna atas adanya tangan kedua setelah produsen. Di mana produsen yang menciptakan dan distributor yang menyalurkan. Dari hal ini kita dapat mengartikan bahwa sesuatu yang kita peroleh itu telah melalui perantara.

Semoga selawat selalu tercurah kepada Rasulullah salallahu’alaihi wasallam, Nabi yang diberi kesempatan untuk dapat berbicara langsung tanpa melalui perantara Malaikat. Jika kita kembali pada kisahnya dalam menerima wahyu, maka Rasulullah salallahu’alaihi wasallam juga menerimanya melalui perantara Malaikat Jibril. Semoga kita tetap terjaga menuju takarrub ilallah dengan benar.

Manusia ummat Rasulullah salallahu’alaihi wasallam, telah sampai pada zaman di mana dunia dipenuhi dengan kecanggihan teknologi. Di mana hampir seluruh kebutuhan serta kegiatan manusia didominasi oleh bantuan teknologi yang canggih tersebut sehingga peran sosial manusia kemudian digantikan oleh teknologi. Selanjutnya, yang dapat menguasai teknologi tersebutlah yang akan memiliki peran penting dalam aktivitas manusia.

Termasuk juga kemampuan memberi pertolongan materi, setting kejadian, serta menciptakan nuansa tertentu. Di sini selanjutnya manusia harus memanfaatkan kesadaran atas kalimat persembahan kepada Tuhan dan permohonan pertolongan. Bahwa pertolongan Tuhan selalu datang melalui perantara, jadi jangan sampai pertolongan Tuhan malah membuat kita menghamba kepada perantara, tidak kembali kepada hakikat kasih dan sayang Allah.

Mari kita melihat kembali nilai kita sebagai seorang hamba, etiskah kita meminta pertolongan kepada Tuhan tanpa sebelumnya beribadah dengan benar? Jangan sampai kita lost control dan kehilangan nilai sebagai seorang hamba. Sesungguhnya gerak tubuh kita akan terkontrol dengan saksama apabila kita menghayati beberapa hal yang membuat kita semakin memahami posisi kita sebagai hamba dan pemohon pertolongan.

Pertama, bahwa kita ada karena-Nya. Atas dasar ini sudah sepatutnya kita kembali kepada kesadaran bahwa kita hidup karena kuasa-Nya. Kedua, bahwa kita adalah mahluk yang selalu meminta pertolongan, kita selalu memohon kebaikan untuk kebutuhan jasad, spiritual serta hubungan sosial. Ketiga, bahwa kita berada dalam pengawasannya, kita disaksikan dengan terang tanpa ada yang bisa disembunyikan.

Ingatlah bahwa di dalam Al quran telah disebutkan bahwa semua makhluk baik yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah, Tuhan semesta alam . Sebagai salah satu penghayatan, perhatikanlah kembali gerak tubuh kita di atas bumi ini, perhatikanlah alam di sekitar. Lihatlah di mana anda sedang berada sekarang, pada posisi duduk, berdiri atau tidur, di bawah anda ada mahluk yang tengah bertasbih kepada Allah swt.

Sepatutnya pula kita harus berusaha dapat melakukan kontrol diri terhadap segala hal, dalam setiap tindakan, agar semuanya mengarahkan kita kepada melakukan kebaikan. Memohon untuk terus diberikan kesehatan, kecukupan, serta keselamatan untuk melakukan ibadah. Serta yang paling utama ialah ihdinassiraatal mustakiim, ditunjukan jalan yang lurus. Jadi, konsepnya ialah melakukan persembahan sebagai kewajiban baru kemudian kita berhak untuk meminta.

Begitulah semestinya kita membentuk etika hablumminallah, bukan menempatkan tindakan merayu tuhan saat syahwah atau keinginan terhadap sesuatu hal sedang memuncak. Memborong semua tingkah penyembahan, sedang sebelum-sebelumnya belum pernah dilakukan, menangis-nangis agar mendapatkan iba dari Tuhan. Namun, setelah terpenuhi apa yang diinginkan, Tuhan kemudian dilupakan.

Penulis: Masdiyanto (HMI Komisariat Ummat)

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.