Cerpen  

Rungkad

Rungkad
Rungkad | Ilustrasi ©Rara/Lapmi TNG

Sore hari di kantin kampus, aku menemui seorang adik tingkat yang sedang menyantap makanannya dengan lahap.

“Aiih, di cari ke mana-mana, di chat dan telepon gak ada jawaban, sedang makan mie rupanya kau!”

“Hehe,” sahutnya.

Dia Ghani, semester empat di jurusan teknik informatika. Dia juga salah satu kader komisariat UMT. Siang tadi aku mencarinya karena ada sebuah kajian Rukun Islam di sekretariat. Komisariatnya sendiri sebagai penyeleggara kajian itu. Namun, dia tidak hadir, malah asik nongkrong di kampus.

“Kenapa tadi kau tak datang?”

“Kurang seru, Bang, temanya.”

“Memangnya apa yang menurut kau seru?”

“Kajian filsafat, Bang, Materialisme, Stoikisme, Nietszche, yang berat-berat, lah, pokoknya.”

“Rukun Islam kau anggap enteng?”

“Bukan enteng, Baang. Kurang seru aja, hehe.”

“Aish… kau!”

Memang dalam beberapa waktu terakhir, setiap kali komisariat mengadakan kajian atau kegiatan bernuansa Islam, selalu sepi. Kegiatan mengaji di bulan Ramadan pun hanya tiga sampai lima orang yang berpartisipasi. Mungkin mereka lebih nyaman mengaji di rumah, biar tidak jadi ria, begitu.

Kepengurusan tiap komisariat pun nampaknya sedang mengalami degradasi. Para Ketuanya kurang merangkul jajarannya dalam menjalankan amanah sehingga mungkin mereka agak kebingungan. Anehnya juga, yang kebingungan itu kebanyakan malu bertanya sehingga tersesat.

Malamnya, aku kembali ke sekretariat, mengambil pakaian ganti untuk dibawa ke Bogor. Di sekretariat, ada tiga kader yang sedang berkumpul. Salah satunya, Robi, dia pengurus komisariat UNIS di unit intelektual dan budaya (Inbud).

“Hey, Rob, kau, kan Inbud, besok ada pertunjukan teater di pasar lama. Kau hadir, lah!”

“Gak usah, lah kau suruh-suruh aku, Bang! Aku gak suka disuruh-suruh.”

Sebenarnya, mendengar tanggapan Robi, aku sedikit kesal. Namun, mau bagaimana? Anak itu memang begitu kelakuannya.

Keesokannya, setelah mengisi materi di Bogor, aku mengecek grup kelas menulis. Kebetulan aku diminta untuk mengisi materi juga dalam program tersebut. Program itu berjalan di Grup Whatsapp sehingga bisa dijalankan di mana saja.

Setiap selesai penyampaian materi, peserta diminta untuk mengirim tugas. Akan tetapi, sudah lewat dari tiga kali materi dan belum ada yang kirim tugas. Aku berinisiatif mengirim pesan pribadi ke masing-masing peserta.


Peserta 1

“Halo, Riska. Ini saya Ucok, apa kamu ada kesulitan dalam mengerjakan tugas cerpen?”

“Iya, nih, Bang, masih belum paham, hehe.”

“Bagian mana yang belum kamu paham?”

“Semuanya, Bang, hehe.”


Peserta 2

“Halo, Karin. Ini saya Ucok, apa kamu ada kesulitan dalam mengerjakan tugas cerpen?”

“Gaada, kok, Bang.”

“Kalau gaada, kirim, lah, segera tugas-tugasnya.”

“Belum ada waktunya aja, Bang, hehe”


Peserta 3

“Halo, Ari. Ini saya Ucok, apa kamu ada kesulitan dalam mengerjakan tugas cerpen?”

“Wah, iya, Bang, maaf saya belum sempet ngerjain.”

“Lagi sibuk sekali rupanya kamu, Ri?”

“Iya, nih, lagi banyak tugas dari kampus, Bang.”


Ada salah satu peserta yang kebetulan teman dekatku, jadi aku kirim dia pesan dengan bahasa yang lebih santai.

Peserta 4

“Hey, Adam, kau kerjakan, lah tugas cerpen itu. Gimana, sih, kau ini!”

“Mager sekali aku, Cok!”

“Alaaah, katanya mau jago buat cerpen, tapi kenapa pulak mager?”

“Aku, kan, mau jago, Cok, bukan mau belajar!”


Makan hati lama-lama aku jadinya. Diajak belajar, dia, mager, sulit kali meluangkan waktu. Dikasih tau untuk hadir kegiatan supaya bangun jejaring, tapi katanya gamau disuruh-suruh. Ditunggu inisiatif, tapi mereka banyak diamnya. Lucu sekali adik-adik ini. #tepokjidat


Penulis : Ucok Silobahutang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.