Cerpen  

Tekukur Ayah

Tekukur Ayah
Tekukur Ayah | Ilustrasi ©Rara/Lapmi TNG

Seperti sebelum-sebelumnya, Tuhan selalu membantu. Biasanya malam tadi sudah ada gambaran akan bantuan Tuhan. Jika bukan malam sebelum hari h, pasti pagi. Jika tidak pagi, paling lambat siang hari. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00, tetapi belum juga ada pertanda.

“Ditunggu sampai pukul 4 sore.”

Begitu pesan dari petugas tata usaha di kampusku. Sudah tiga kali hampir putus kuliah dan Tuhan selalu membantu. Tidak ada alasan untuk berpaling menjadi ragu. Aku pasrah dengan kepasrahan paling dalam. Setelah semua usaha tetap tidak mendapatkan jalan, hanya tinggal menunggu keputusan tuhan. Jika memang harus berhenti, akan ku sampaikan pada Ibu dengan sangat menenangkan.

Rasanya tidak boleh mengosongkan pikiran agar aku tidak stres, apalagi sampai gila. Lebih baik aku mengkhayal, membayangkan hal baik yang akan terjadi. Untuk menghibur hati dan pikiran, lebih baik menyendiri di dalam kamar, menulis sesuatu tentang lelaki tua yang aku jumpai di atas gunung Titir.

Hah! Aku tidak pandai merekayasa cerita. Awalnya aku menulis kisah lelaki tua yang menurutku sudah dilupakan oleh malaikat kematian. Di mana hanya ia seorang yang masih hidup dari sekian banyak penghuni gunung Titir. Namun, aku malah mengingat setumpuk pesanan tulisan.

Seolah tidak ada beban, aku masih saja mengabaikan tugas-tugas berat yang bertengger di pundakku. Entah di sebelah kiri atau kanan, keduanya sama saja. Pada kayu di atas jendela kamarku, Burung Tekukur peninggalan Ayah bersuara. Umurnya lebih tua dari aku, karena sejauh aku mengingat masa kecil, ia sudah menggantung di sana.

“Rezeki datang!”

Begitu biasanya ayah berucap.

Tak lama kemudian datang seorang Paman, saudara seperjuangan ayah saat merantau di Bali. Ia kerap mendatangi rumah kami saat mengingat wajah ayah. Jari-jemariku menyelesaikan satu kalimat, lalu laptop kumatikan. Di berugak, Paman tengah bercerita tentang kemiskinan.

Aku pikir ia akan membawa rezeki dalam bentuk uang, paling tidak peluang untuk mendapatkan uang. Ternyata hanya cerita, hanya rezeki untuk isi kepala dan pelajaran hidup. Paman terus menceritakan kesusahannya. Sesekali ia disambut bunyi Tekukur Ayah.
ada kalimat yang rumit bagiku, mungkin juga bagi semua orang miskin.

“Untuk dapat mencari uang, harus punya uang.”

Kalimat yang sedikit itu memutar-mutar, menurutku tidak akan ada solusi. Aku juga miskin, tetapi sampai saat ini aku masih hidup, tidak mati karena miskin. Tuhan selalu membantuku.

Sebelum Paman pergi, ia berpesan.

“Jangan pindah Tekukur ayahmu!”

Tekukur ayah terus bersuara, paling tidak aku harus meyakini, bahwa Paman telah datang membawa hal baik. Tekukur ayah bersuara lagi, bunyinya lebih nyaring. Paman datang lagi, jejak langkahnya yang tadi masih belum hilang, bertambah lagi di sebelahnya.

“Carikan aku sangkar burung milik ayahmu dulu, jangan sampai rusak tidak dipakai!”

Paman meminta sangkar burung, aku mencarikannya di kamar ayah. Kudapati satu sangkar burung yang terbuat dari kayu, kubawakan bersama galahnya.

Paman menggoyangkan, melihat kekuatannya. Sangkar itu tak goyah, banyak paku-paku ukuran paling kecil, Ayah menderetkannya berdempetan. Paman pergi lagi, membawa sangkar saja, galahnya ia tinggalkan bersama uang seratus ribu. satu masalah selesai, setidaknya aku tidak menyusahkan bensin motor.

“Tring…”

Telepon dari seorang teman kuliah.

“Iya, Pak, bagaimana?”

“Datang ke Kampus, jangan urus apa-apa, jangan tanya apa-apa, langsung masuk Kelas!”

Masalah inti akhirnya selesai bahkan tanpa melakukan usaha apapun.

“Ayah, aku dirawat oleh Tuhan!”

Aku pandangi tekukur ayah, air mata tak tertahan.


Penulis : Masdiyanto, kader HMI Komisariat Ummat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *