Cerpen  

Memaknai Perpisahan (3/3)

“Semua orang menganggap dengan mencintai, mereka mempunyai kepemilikan atas hal yang mereka cintai, padahal tidak sama sekali. Cinta adalah rasa, dan rasa tidak berkaitan dengan kepemilikan. Aku mencintai Laras, dan aku menganggap dia adalah milikku. Itu adalah kesalahan terbesar. Aku hanya mempunyai rasanya bukan jiwanya.”
"Memaknai Perpisahan (3/3)" | Ilustrasi ©Ooceey/Pixabay

“Semua orang menganggap dengan mencintai, mereka mempunyai kepemilikan atas hal yang mereka cintai, padahal tidak sama sekali. Cinta adalah rasa, dan rasa tidak berkaitan dengan kepemilikan. Aku mencintai Laras, dan aku menganggap dia adalah milikku. Itu adalah kesalahan terbesar. Aku hanya mempunyai rasanya bukan jiwanya.”

Aku menghela nafas panjang.

“Bukankah perpisahan akan lebih menyakitkan jika melibatkan cinta?”

Aca terdiam seolah menyetujui perkataanku. Aku menatapnya,

“Aca, hidup terus berjalan dengan atau tanpa Felix. Bukankah hidup telalu singkat jika dihabiskan dengan bersedih?”

“Kau pun sedang bersedih, bukan?”

Aku tersenyum, begitupun Aca. Di taman, di bawah pohon yang rindang dengan udara yang sejuk berkiblatkan matahari yang akan pamit, Aca duduk di sebelahku. Aca menceritakan perpisahannya dengan Felix. Alasannya, Felix tidak suka sifat Aca yang terlalu mengekang. Sungguh klise! Apa tidak ada jalan lain selain perpisahan? Apa tidak bisa Felix berbicara kepada Aca untuk tidak terlalu mengekangnya? Aku tidak berani menanyakan itu. Bukan hanya takut menyinggung, tetapi aku juga tak mau membuatnya semakin bersedih. Aku berusaha menguatkan Aca dengan kata-kata yang mungkin aku sendiri pun tak bisa sekuat itu.

Matahari sudah terbenam, hari mulai berganti malam. Aku mengajak Aca untuk mencari tempat yang sedikit hangat. Aku menyalakan motorku. Aca duduk di belakang, tangannya memegang pinggangku erat.

“Kalau dingin, peluk aja. Gapapa, kok,” ucapku.

Tanpa menjawab, Aca memelukku erat seolah menemukan kenyamanan. Aku pun merasa nyaman saat Aca memelukku.

“Aku merasa nyaman saat berada di dekatmu, Aca, tapi aku tak menemukan cinta,” ujarku dalam hati.

Kami berhenti di sebuah rumah makan yang tidak terlalu mewah, tetapi terlihat nyaman. Kata Aca masakan di sini enak-enak. Aca memesan dua ayam bakar dan dua teh hangat. Ayam bakar dengan wangi yang begitu sedap menusuk hidungku sampai perutku berteriak. Aku langsung melahap habis ayam bakar itu tanpa tersisa dan tak mempedulikan keberadaan Aca.

Memberi kekuatan untuk Aca agar tidak terlalu bersedih nampaknya menguras sebagian tenaga dan pikiranku.

“Pelan-pelan, Acal,” ucap Aca.

Aku tak mengindahkan perkataan Aca. Aku terus melahap ayam bakar yang pedasnya membuat cucuran keringat memenuhi sebagian wajahku. Saat aku tengah asik makan, aku merasakan ada yang berdiri di sebelahku.

“Haiii….”

Aca menyapa orang yang berdiri di sampingku. Saat aku menoleh, ternyata Laras tengah mengawasiku makan. Aku terpaku, waktu seakan berhenti dan jantungku berdegup kencang.

“Kalian berdua saja?” tanya Laras, ramah seolah tak punya salah.

Aca hanya mengangguk sembari tersenyum. Aku tak menggubris pertanyaan yang sekadar basa-basi itu. Aku berdiri dan pergi dari meja makan untuk mencuci tanganku yang masih dipenuhi bumbu ayam bakar.

“Sial! Mengapa dunia sesempit ini?” gumamku dalam hati.

Aca seolah mengerti perasaanku, ia membiarkan aku pergi dari meja makan. Aku berdiam agak lama di depan wastafel berharap wanita itu segera pergi dari rumah makan ini.

Sial! Laras malah duduk di meja itu berbincang-bincang dengan Aca. Aca memang berteman baik dengan Laras, tetapi untuk berbincang-bincang waktunya kurang tepat. Aku menghampiri meja dengan wajah datar tanpa senyuman.

Sudah tiga bulan setelah kejadian di depan rumah Laras yang masih sangat membekas di ingatan. Aku sudah baik-baik saja, seperti sebelum mengenal Laras. Malam ini langit cerah, suasana di rumah makan yang tadinya dingin berubah menjadi panas saat aku bertemu Laras.

Laras yang sedang berbincang dengan Aca tiba-tiba menatapku dengan senyuman.

“Kamu apa kabar, Acal?”

Jantungku semakin berdegup, aku tak mengerti bahkan tak bisa mengatur. Bibirku seolah tak bisa terbuka,

“Baik,” ucapku pelan, berusaha mengatasi kegugupan.

Aku berusaha duduk dengan tenang seolah semua berjalan baik-baik saja. Aku tak mau semakin lama di sini. aku tak bisa terus berbohong untuk bersikap baik-baik saja. Aku mengajak Aca pulang.

“Yaudah, yuk. Aku duluan, ya, Laras,” ucap Aca, tersenyum kepada Laras sembari melambaikan tangan kananya.

Aku tak berpamitan, untuk apa berpamitan kepada orang yang tak menghargai pertemuan.

Motorku melaju pelan. Aku menikmati deru motor yang berada di kanan dan kiri. Aku berusaha membuang pikiran tentang Laras, tetapi tak bisa. Semakin ia dibuang dalam pikiran, semakin aku mengingatnya.

“Kamu baik-baik aja, kan, Acal?”

“Aku baik-baik saja, Aca.”

“Aku tahu, tak mudah untuk melupakan, bahkan mungkin tak bisa,” kata Aca

Dia menghela nafas panjang.

“Kita sedang sama-sama berjuang untuk menerima perpisahan, Acal, bukan melupakannya,” lanjutnya.

“Sudahlah, Aca. Aku menganggap pertemuan aku dengan Laras tadi adalah bagian dari perpisahan.”

“Semoga kau sekuat apa yang kau bicarakan, Acal.”

Sesampainya di depan rumah Aca, aku berterima-kasih ia mau membagi ceritanya kepadaku.

“Terima-kasih sudah membagi ceritamu, Aca. Meskipun, aku tidak bisa membantu banyak. Sekadar mendengarkan dan menguatkan, hanya itu yang bisa aku lakukan.”

Aca tersenyum.

“Aku yang berterima-kasih, Acal. Kau lelaki hebat.”

Aku membuka kedua tanganku, mempersilahkan Aca memelukku.

Aku memang sengaja tidak menyinggung soal pertemuan kami dengan Laras. Aca seolah mengerti dan tak menyinggung kejadian itu. Aca memang wanita baik dengan segala keistimewaan. Ia cantik, matanya indah, dan tuturnya lembut seperti Laras. Aku suka dengan wanita yang mempunyai tutur yang lembut, tapi tegas. Itu adalah salah satu sebab aku mencintai Laras.

“Apa mungkin aku mulai mencintai Aca?” tanyaku dalam hati.

Aku hanya ingin mengobati lukanya dan membuatnya merasa utuh, bukan mencintainya.

Aku menjadi semakin sering bertemu dengan Aca, menghabiskan waktu dengan berjalan berkeliling kota, duduk di taman, meminum kopi, dan menyaksikan pamitnya matahari. Perasaan cinta perlahan muncul. Berawal dari kenyamanan, cinta kemudian datang. Aca sudah semakin riang, tidak seperti kali pertama aku bertemu dia.

Sepertinya dia sudah menerima perpisahannya dengan Felix. Aku ikut senang melihat Aca senang. Lalu apalagi tujuan manusia setelah mencapai kesenangan?

Aku duduk di teras menikmati sore dengan langit kelabu yang bersiap menumpahkan hujan. Tiba-tiba Aca muncul di depan rumahku. Dengan wajah riang ia menghampiriku.

“Halo, Acal. Aku bawain kopi, nih,” ucapnya sembari menyodorkan kopi yang ia bawa.

“Widih… makasih, Aca. Ada apa, nih? Kok, bawa sogokan gini?” tanyaku sembari tersenyum.

“Gak ada apa-apa, sih, cuman pengen ketemu kamu aja.”

Aku menatapnya sembari tersenyum.

“Kangen?”

“Hihh… apaan, sih?”

Aca mencubitku. Mukanya memerah dan aca tersenyum berusaha menutupi rasa malunya. Sepertinya, ia mulai mencintaiku.

Aku tak bisa membohongi diri sendiri bahwa aku pun mencintai Aca, tetapi aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama dengan merasa bahwa setelah kita sama-sama jatuh cinta aku mempunya kepemilikan tentang dirinya, begitupun sebaliknya.

“Aca, aku mau ngomong serius boleh?”

Aca hanya mengangguk sembari meminum kopi, ia tampak sedikit terkejut dengan ucapanku.

“Aku mencintaimu, Aca.”

Aku menatapnya lekat.

“Tapi, kau ingat dulu aku pernah bilang bahwa kesalahanku ialah menganggap orang yang aku cintai sebagai milikku. Aku tidak mau menganggap bahwa kau milikku, Aca. Aku percaya, cinta adalah kebebasan. Jika cinta mempunyai ikatan maka yang terjadi bukan kebebasan melainkan penjajahan,” lanjutku.

“Kau mencintaiku, tetapi tidak ingin menjadikanku pasanganmu, bukan?”

Aca terdiam sejenak.

“Aku juga mencintaimu, Acal. Hari-hariku terasa indah saat kamu berada di dekatku. Kamu bisa membuat bunga yang layu menjadi indah. Kamu membuat aku yang rapuh menjadi utuh,” lanjutnya.

“Aku tak ingin kamu menggantungkan kebahagiaan kepadaku, Aca. Aku pun tak ingin menggantungkan kebahagiaan kepadamu.”

“Ya! Terima-kasih sudah menemani masa sulitku, Acal.”

Ia memelukku, lalu pergi.

“Aca, bukan kamu yang pergi, yang jelas ini adalah perpisahan.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *