i am male feminist

Adakah laki-laki yang mengatakan dia mencitai pacarnya, tetapi kemudian dia menampar dan melecehkan pacarnya? Adakah seorang suami yang menyatakan dia mencintai istrinya, tetapi dia berpoligami? Sebelumnya, saya tidak ingin berlarut-larut dalam perspektif agama soal poligami. Boleh atau tidaknya poligami memiliki banyak unsur yang harus dipenuhi. Mampukah laki-laki yang berpoligami disandingkan dengan Muhammad atas dasar keadilan?
"i am male feminist" | Ilustrasi ©Lapmi_TNG

Adakah laki-laki yang mengatakan dia mencintai pacarnya, tetapi kemudian dia menampar dan melecehkan pacarnya? Adakah seorang suami yang menyatakan dia mencintai istrinya, tetapi dia berpoligami? Sebelumnya, saya tidak ingin berlarut-larut dalam perspektif agama soal poligami. Boleh atau tidaknya poligami memiliki banyak unsur yang harus dipenuhi. Mampukah laki-laki yang berpoligami disandingkan dengan Muhammad atas dasar keadilan?

Saya ingin membahas soal kesetaraan gender. Soal bagaimana laki-laki memutus kuasa kelas patriarkinya. Mampukah laki-laki menghadirkan keadilan bagi perempuan?

Menjadi feminis laki-laki adalah keniscayaan, tetapi juga kemustahilan bagi laki-laki. Hal itu sangat membingungkan. Di satu sisi, laki-laki harus bersekutu dengan perempuan untuk melahirkan keadilan. Di sisi lain, laki-laki cukup absurd memahami perempuan untuk mencapai feminisme.

Mencari jawaban dari pertanyaan di atas tidaklah mudah. Masih banyaknya pandangan bahwa menjadi feminis sama halnya menjadi perempuan atau menjadi feminis adalah menjadi feminin. Padahal, feminisme adalah teori keadilan – upaya mengubah dan memerangi stereotip gender serta berusaha membangun peluang pendidikan dan profesional yang setara antara perempuan dan laki-laki.

Selanjutnya, menjadi feminis laki-laki bukan hanya sekedar mempelajari teori keadilan dan mempelajari metodologi feminisme semata. Namun, memahami secara konseptual jenis-jenis ketidakadilan yang tidak dipahami oleh berbagai teori ilmu, termasuk teori filsafat. Feminisme membuka pengetahuan baru bahwa segala bentuk ketidakadilan bermukim pada tubuh perempuan.

Dengan begitu, menjadi laki-laki feminis bukan soal kecerdasan akdemik semata. Namun, sebuah panggilan peradaban untuk memperbaiki kontruksi keadilan sebab laki-laki selalu menikmati surplus patriarki. Misalnya, soal beauty industrial complex, persekongkolan industri kecantikan antara acara talk show stasiun televisi, dokter kulit, dan farmasi – untuk mendesain terbentuknya kriteria kecantikan di mata publik. Persekongkolan itu diciptakan sistem kapitalisme yang didominasi oleh laki-laki, bahkan dinikmati pula oleh kaum laki-laki.

Karena itu, seorang laki-laki yang memahami metodologi feminis tidak bisa dengan cepat memploklamirkan dirinya sebagai laki-laki feminis. Bisa jadi, laki-laki feminis adalah bentuk manipulasi atau kepura-puraan terhadap perempuan karena secara diam-diam kita masih menikmati sistem patriarki.

Contohnya, ketika seorang suami diminta istrinya yang sedang hamil untuk mencari buah, kemudian sang suami menuruti permintaan istrinya. Namun, permintaan itu dilaksanakan atas dasar keterpaksaan agar tidak dibebani kecengengan sang istri, yang tidak bisa dibendung oleh si suami. Artinya, perhatian tersebut tidak murni bentuk perhatian. Hanya, terlihat dipermukaan saja bukan yang dirasakan sang istri secara psikologis.

Oleh karena itu, hadirlah ethics of care (etika kepedulian) sebagai respon dari ethics of right (etika hak). Rocky Gerung menjelaskan tentang Etika Feminisme di dalam Kajian Filsafat dan Feminisme 7 (KAFFE 7) bahwa ethics of right merupakan etika yang berbasis hak dan bersifat universal. Ethics of right berbeda dengan etika kepedulian yang basisnya adalah kondisi konkret. Singkatnya, ethics of right adalah pengetahuan laki-laki dari daya abstraksi yang mencari rasionalitas universal. Sebaliknya, etika kepedulian berangkat dari problem ketidakadilan.

Perbedaan mendasar antara ethics of right dengan etika feminis adalah perspektif dalam melihat persoalan. Pertama, mengandaikan bahwa masalah yang dihadapi manusia sifatnya universal. Kedua, mengandaikan bahwa respons terhadap problem yang dihadapi manusia tidaklah universal. Etika feminis selalu bersifat situated knowledge, artinya pengetahuan perempuan selalu berlokasi pada situasi konkret, ia tumbuh dari pengalaman kebertubuhan perempuan, sedangkan pengetahuan laki-laki selalu berasal dari abstraksi dan diformulasikan menjadi nilai yang universal.

Artinya, laki-laki memang tidak bisa merasakan permasalahan perempuan secara utuh. Misalnya, secara biologis, laki-laki tidak memiliki pengalaman melahirkan. Di sisi itu, perempuan memiliki kemampuan divicibility, yaitu membagi dua tubuhnya untuk dirinya dan bayinya.

Dengan begitu, secara ontologi laki-laki tidak tahu apa itu care – karena care hanya melekat pada pengalaman. Oleh karena itu, yang dapat dilakukan laki-laki, memiliki kemurnian niat untuk mencapai keadilan pada perempuan dengan cara terus-menerus melakukan refleksi kritis – sebab refleksi adalah cara yang paling baik untuk dekat dengan etika kepedulian.

Di sisi lain, saya ingin mengingatkan perempuan bahwa dewasa ini masyarakat kita masih terjebak dalam kultur patriarki. Masih banyak laki-laki yang merasa superior atas perempuan atau berkamuflase seolah menjadi male feminist, padahal itu bagian dari akal bulusnya.

Saya pun bersepakat dengan salah satu aktivis feminis Audre Lorde yang mengatakan: Peralatan raja tidak mungkin dipakai untuk membongkar istana raja.

The Master’s tools will never dismantle the master’s house.”

Terakhir, secara narasi, saya menunjukan sikap care. Bahkan, judul yang saya tulis tidak menggunakan huruf kapital adalah perpanjangan perlawanan bell hooks, seorang aktivis feminis yang menganggap huruf kapital di awal merupakan bagian dari patriarki. Namun, di dalam alam pikiran saya, tanpa disadari masih tertanam benih-benih patriarki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.