Cerpen  

Gadis Manis

Di alun-alun kota, seluruh pandangan tertuju pada seorang pemuda. Pemuda itu dikenal sebagai penyair dan aktivis. Namun, dia tidak mengakui keduanya. Soal penyair, dia hanya sekedar mengagumi sastra. Terlebih lagi soal aktivis, dia hanya memiliki tanggung jawab berjuang bersama yang tertindas.
"Gadis Manis" | Ilustrasi ©Rara/Lapmi_TNG

Di alun-alun kota, seluruh pandangan tertuju pada seorang pemuda. Pemuda itu dikenal sebagai penyair dan aktivis. Namun, dia tidak mengakui keduanya. Soal penyair, dia hanya sekedar mengagumi sastra. Terlebih lagi soal aktivis, dia hanya memiliki tanggung jawab berjuang bersama yang tertindas.

Pemuda itu teriak kegirangan, kakinya tidak berhenti bergerak, melangkah dan melompat kesana-kemari seperti sedang menari. Di tengah alun-alun, dia menghampiri teman-temanya yang sedang berkumpul, kemudian bersalaman atau sekedar mengadu telapak tangan.

Salah satu teman pemuda itu bertanya, “Ada apa gerangan sesumringah ini, Lis?”

“Saya sedang bahagia,” jawab Kalis, kemudian duduk di antara teman-temannya.

“Apa yang membuatmu bahagia?” tanya teman Kalis yang lain.

“Kalian mau tahu?” jawab Kalis sambil mengarahkan pandangannya keseluruh temannya.

**

Sebenarnya, teman-temannya sudah tahu penyebabnya. Pertanyaan itu sekedar basa-basi atau bentuk perhatian. Pasti Kalis sedang kasmaran. Tidak ada yang membuatnya sebahagia itu selain jatuh cinta.

Dahulu, Kalis pernah jatuh cinta pada seorang gadis. Katanya, wajah gadis itu teramat manis, tak bosan jika dipandang. Setiap kali bertemu temannya, dia selalu menceritakannya. Namun, tak ada satu pun dari temanya yang diperlihatkan wajah gadis manis. Menurut Kalis, cinta itu perlu disamarkan, tidak perlu diumbar. Maka tidak boleh ada yang tahu gadis manis. Dia khawatir temannya juga tertarik atau justru menjadi pesaingnya.

Gadis manis adalah sebutan untuk wanita yang disukai Kalis. Meminjam teori relativitas Einsten. Pada dasarnya, semua wanita cantik. Namun, tergantung siapa yang melihatnya. Karena itu, Kalis memilih sebutan gadis manis untuk membuat perbedaan.

Semenjak itu, Kalis sering tersenyum sendiri, tiba-tiba teriak tidak jelas, bahkan sering mengajak diskusi soal cinta. Kejadian itu menjadi bahan lelucon temannya, dia suka melihat logika dan nalar kritis Kalis hilang, layaknya orang gila.

Sayangnya, selain bahagia Kalis juga sering murung, sedih, bahkan marah. Mungkin karena gadis manis atau kecewa pada dirinya sendiri. Kalis pasif pada gadis manis. Keberaniannya hilang. Perasaannya hanya dipendam, dia terlalu pengecut untuk sekedar menyatakan cinta. Namun, tak elok jika dia dibilang pengecut karena menahan rasa cinta dan kerinduan yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang berjiwa tegar.

Kalis layaknya perpaduan karakter Qais dan Laila. Di satu sisi, dia menjadi Qais, yang mengumbar-umbar rasa cintanya. Di sisi lain, dia menjadi Laila, yang menyembunyikan rasa cintanya.

**

“Di acara festival sastra tadi, saya bertemu gadis yang amat manis,” kata Kalis, mulai bercerita kepada teman-temannya.

“Kau bertemu gadis manis lagi, Lis?” sahut temannya.

“Yups. Saya melihatnya di atas panggung, dia sedang membawakan sebuah puisi. Dibacanya sajak-sajak itu dengan anggun. Ternyata, puisi itu ciptaannya sendiri dan tak kalah indah dari puisinya Sapardi.”

“Setelah itu?” tanya temannya.

“Kami berkenalan, kemudian saling bertukar puisi.”

“Berani kamu lakukan itu, Lis!” timpal temannya.

“Gadis manis itu yang memulai, jadi saya berani.”

Mendengar jawaban Kalis, teman-temannya serentak menertawakan.

“Kau memang masih takut pada gadis manis, Lis! Tapi, tidak apa-apa,” gerutu temannya.

“Seorang pecinta akan takut atau merasa kecil di hadapan cintanya.”

“Baik. Kalau begitu, mau kah kau bacakan puisi gadis manis itu untuk kami?” pinta temannya.

“Jangan! Saya takut kalian juga ikut jatuh cinta.”

Selesai bercerita, Kalis menepi dari teman-temannya. Dia bersandar pada tiang bendera yang tertancap di tengah alun-alun kota itu. Dia membuka gawainya, melihat hasil dokumentasi festival sastra tadi. Sebenarnya, dia hanya ingin melihat wajah gadis manis untuk kesekian kalinya. Baginya, tak ada yang membosankan pada gadis manis. Dia rindu, padahal baru bertemu. Namun, begitulah manifestasi cinta adalah kerinduan.

Setelah itu, Kalis membuka salah satu media sosialnya. Baru saja dibuka, Kalis terpaku. Sorot matanya kosong menemukan sesuatu yang membangkitkan masa lalunya. Sebuah insta story yang sudah lama tidak muncul, kini muncul kembali. Insta story itu milik gadis manis yang dahulu dia sukai.

Kalis masih terpaku, mengingat cintanya di masa lalu, yang tak pernah diungkapkan. Hanya, mengirimkan puisi karangannya, lalu memperhatikan dari kejauhan dan sebisa mungkin memberi perhatian. Pada akhirnya, dia harus kecewa dan melupakan. Sekarang, gadis manis masa lalunya itu sudah memiliki keluarga kecil.

Kalis tidak rindu pada masa lalunya, apalagi ingin merenggutnya kembali, tidak sama sekali. Kalis hanya mengenang. Lagi pula, rasa cintanya saat ini lebih dalam dan kenikmatannya jauh lebih besar. Tampaknya, dia lebih khawatir kejadian masa lalunya itu terulang pada gadis manis yang baru saja dia jumpai.

Di sisi lain, teman-temannya masih memperhatikan perilaku Kalis. Mereka heran melihat ekspresi Kalis yang seketika berubah dari gembira menjadi lara.

“Kenapa tiba-tiba jadi diam gitu, Lis?” tanya salah seorang temannya.

Kalis tak menjawab. Dia justru pamit lebih awal. Sebelum jauh meninggalkan teman-temannya, masih di sekitar alun-alun kota, dia berteriak amat kencang.

“GADIS MANIS ITU FANA!”

Penulis: Owel Dae

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *