Puisi  

Keliru

Masih terekam jelas Semua yang menahanku tidur pulas Luka yang selalu menimbulkan rasa was-was Belum juga menemui ikhlas
"Keliru" | Ilustrasi ©hmitangerangraya/Ade Aji Maulana

Masih terekam jelas
Semua yang menahanku tidur pulas
Luka yang selalu menimbulkan rasa was-was
Belum juga menemui ikhlas

Pernah kupaksa diri untuk bicara, tentang sebuah rahasia
Aku kira mereka akan iba, tetapi malah aku dipandang nista
Seolah aku yang melanggar etika

Padahal, bukan aku yang meminta
Sepasang bibirnya mendarat di atas payudara
Kemudian dia pergi tanpa merasa berdosa dan aku dibuat bertanya-tanya
Apa pernah aku memasang harga??
Siapa bilang tubuh ini bebas dinikmati siapa saja??

Tanpa ijinku dia melakukan itu semua
Lantas, kenapa aku yang dituduh menyebar aibnya?
Aku hanya bersuara, memohon keadilan yang seharusnya ada

Mengapa sulit bagi mereka membuka mata?
Bukan aku pelakunya, melainkan dia!
Dia yang tanpa seijinku meraba, lalu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa

Aku ini yang terluka
Aku yang telah dirampas haknya
Aku selalu menitikan air mata, tiap kali teringat mereka yang menyudutkan dan mereka yang diam saja
Bukan aku yang hina, tetapi perbuatannya!

Aku ringkih,
Aku tertatih,
Aku masih berjuang untuk pulih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *